lay Journal of Hylwana Adeeva
Tuesday, April 17, 2007
Susu Formula

Susu sebagai minuman utama pada bayi terdiri dari ASI, PASI atau susu formula (comercial formula) dan Non Formula. ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi dengan ibu. Manfaat bagi ibu dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, mengurangi risiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu.

PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah merupakan alternatif terakhir bila memang ASI tidak keluar, kurang atau mungkin karena sebab lainnya. PASI adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur enam bulan. PASI dapat dikelompokkan menjadi susu formula awal (starting formula), susu lanjutan (Followup Formula) .dan susu formula khusus (specific formula). Starting Formula biasanya diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan dan Followup Formula diberikan di atas usia 6 bulan.

Spesific formula merupakan formula khusus yang diberikan pada bayi yang mengalami gangguan malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit metabolik. Susu formula khusus ini sangat banyak dan bervariasi yang berisi formula tertentu bagi keadaan yang tertentu pula. Diantaranya adalah susu hidrolisa protein ektensif seperti Pepti junior, pregestimil, atau yang paling ekstensif seperti Neocate. Golongan susu tersebut termasuk yang paling aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak MCT (monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi dan sebaginya.

Susu formula khusus lainnya adalah susu hidrolisat protein parsial, seperti NAN HA atau Enfa HA. Golongan susu ini biasanya digunakan untuk bayi yang beresiko alergi atau untuk mencegah gejala alergi agar tidak semakin memberat dikemudian hari. Untuk pencegahan alergi biasanya hanya digunakan sejak lahir hingga usia 6 bulan. Sebenarnya susu ini bukan digunakan untuk penderita alergi susu sapi. Tetapi dalam keadaan gejala alergi yang ringan tampaknya penggunaan susu ini sangat bermanfaat.

Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya adalah susu formula yang mengandung bahan dasar kedelai sebagai pengganti susu sapi. Susu formula soya yang saat ini beredar di Indonesia adalah isomil, nutrisoya, prosobee dan sebagainya. Susu formula khusus lainnya adalah susu bebas atau rendah laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita intoleransi laktosa.

Non formula, merupakan susu yang sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai PASI. Contoh susu non formula adalah susu sapi segar, susu skim atau susu kental manis. Susu ini komposisinya tidak sesuai dengan komposisi yang direkomendasikan oleh FDA atau komposisinya tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. Susu formula sangat berbeda dengan susu sapi murni, meski bahan baku susu formula dari susu sapi. Dalam susu formula, ada tambahan nutrisi yang sudah terukur dan disesuaikan dengan gizi yang dibutuhkan bayi. Karena itu, pemberian susu formula kepada bayi harus sesuai dengan kebutuhan bayi dan kandungan yang telah dianjurkan.

STRATEGI PEMILIHAN SUSU FORMULA Bagaimana strategi atau langkah yang tepat dalam melakukan pemilihan susu formula yang terbaik bagi anak. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan apakah anak mempunyai resiko alergi atau intoleransi susu sapi. Resiko ini terjadi bila ada salah satu atau kedua orangtua pernah mengalami alergi, asma atau ketidak cocokan terhadap susu sapi. Langkah ke dua, harus cermat dalam mengamati kondisi dan gangguan yang terjadi pada anak sejak lahir. Gejala yang harus di amati adalah gejala gangguan saluran cerna, gangguan perilaku dan gangguan organ tubuh lainnya sejak bayi lahir

Bila terdapat resiko alergi dan gejala lain seperti di atas, harus lebih cermat dalam melakukan pemilihan susu. Kalau perlu lakukan konsultasi lebih jauh kepada dokter spesialis alergi anak, gastroenterologi anak atau metabolik dan endokrinologi anak Cermati gangguan organ tubuh yang terjadi terus menerus dan terjadi jangka panjang seperti sering batuk, sesak, diare (buang air besar > 2 kali perhari), sulit buang air besar. Bila terjadi sebaiknya harus lebih dicermati apakah gangguan ini berkaitan karena ketidakcocokan susu formula.

Sering terjadi overdiagnosis dalam menentukan anak menderita alergi susu sapi. Sebaiknya jangan terlalu cepat memvonis alergi susu sapi pada bayi. Reaksi alergi yang timbul bukan saja terjadi karena susu formula. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi. Dalam keadaan bayi mengalami infeksi batuk, panas dan pilek sering mengalami gangguan seperti reaksi alergi khususnya pada kulit, saluran cerna dan hipersekresi bronkus (lendir yang berlebihan). Hal lain sering terjadi anak divonis alergi susu sapi padahal sebelumnya penggunaan susu sapi tidak menimbulkan masalah kesehatan. Alergi susu sapi biasanya semakin pertambahan usia akan semakin membaik, bukan sebaliknya. Alergi susu sapi biasanya terjadi sejak lahir. Bila gejala alergi baru timbul di atas usia 6 bulan, penyebabnya sangat mungkin bukan susu sapi. Kita harus mencermati alergi terhadap makanan lainnya yangbiasanya mulai dikenalkan pada usia tersebut. Penderita alergi makanan, selain alergi terhadap susu sapi juga mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Anak yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan sekitar 30 – 40% mengalami alergi susu soya (kedelai). Tetapi susu soya merupakan pilihan pertama untuk anak alergi susu sapi pada usia di atas 6 bulan.

Bila anak mengalami alergi susu sapi yang ringan seperti gangguan kulit dan saluran cerna ringan akan bisa menerima susu sapi tersebut sekitar usia 1 tahun. Bila mengakibatkan gangguan berat seperti batuk, asma dan muntah biasanya akan bisa menerima susu sapi di atas usia 2 hingga 5 tahun.

Bila mencurigai ketidak cocokan susu formula, jangan terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Ketidakcocokan susu formula belum tentu hanya karena kandungan susu sapinya. Gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Proses pengolahan bahan dasar susu sapi ternyata juga bisa berpengaruh. Beberapa cara proses pengolahan susu sapi tertentu dapat menghilangkan protein tertentu yang dapat menyebabkan gangguan alergi. Perbedaan ini dapat diamati dengan perbedaan bau susu formula tersebut. Susu sapi formula satu dengan yang lainnya kadang bau ketajaman susu sapinya berbeda.

Penggantian ketidakcocokan susu formula tidak harus selalu dengan susu soya atau susu hipoalergenik. Jadi, bila mencurigai ketidak cocokan susu jangan terlalu cepat mengganti dengan susu soya atau susu hipoalergi lainnya. Bila gangguannya ringan dengan penggantian susu sapi formula yang sejenis gangguan tersebut dapat berkurang. Misalnya, penggantian susu yang tidak mengandung DHA gangguan kulit bisa menghilang. Buang air besar yang sulit dengan pengantian susu sapi tertentu yang tidak mengandung kelapa sawit gangguannya membaik. Demikian pula gangguan penderita yang sering batuk, dengan mengganti susu sapi formula tertentu dapat mengurangi gangguan itu.

Pemberian susu formula khusus seperti susu soya, susu peptijunior atau susu hipoalergenik sering dianggap tidak bergizi dibanding susu formula lainnya. Sebenarnya secara umum pendapat ini tidak benar. Setiap susu formula kandungan vitamin, mineral dan kalorinya adalah sama, sudah sesuai standar FDA. Harus sesuai dengan kebutuhan anak menurut usianya. Memang susu tersebut tidak mengandung AA, DHA, dan ”kandungan kecerdasan” lainnya. Padahal penambahan kandungan zat tersebut masih belum terbukti secara klinis. Sedangkan bila susu formula lainnya tetap dipaksakan maka banyak gangguan fungsi organ tubuh dan ganggua perilaku yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Hal ini justru akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Selain ketidakcocokan susu, pertimbangan berikutnya dalam pemilihan susu adalah masalah harga. Sesuaikan pemilihan jenis susu dengan kondisi ekonomi keluarga. Harga susu tidak secara langsung berkaitan dengan kualitas kandungan gizinya. Meskipun susu tersebut murah belum tentu kalori, vitamin dan mineralnya kurang baik. Selama jumlah, jenisnya sesuai untuk usia anak dan tidak ada gangguan maka itu adalah susu yang terbaik untuk tumbuh kembang anak tersebut. Semua susu formula susu yang beredar untuk bayi dan anak jumlah kandungan kalori, vitamin dan mineralnya tidak berbeda jauh. Perbedaan harga tersebut mungkin dipengaruhi oleh penambahan kandungan AA, DHA dan sebagainya di dalam susu formula. Pertimbangan lainnya yang penting adalah mudah didapat, baik dalam hal tempat pembelian dan penyediaan produk. Berganti-ganti jenis susu untuk seorang anak tidak harus dikawatirkan selama tidak ada gangguan penerimaan susutersebut. Bila tidak terdapat resiko dan gejala alergi langkah berikutnya coba susu formula yang sesuai usia anak apapun merek dan jenisnya. Amati tanda dan gejala yang ditimbulkan, bila tidak ada keluhan teruskan pemberian susu tersebut dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan anak.

KESIMPULAN Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Pertimbangan lain adalah pertimbangan harga susu yang harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga dan harus mudah didapatkan di pasaran.

Reaksi simpang makanan yang diakibatkan susu formula bisa disebabkan karena beberapa komposisi yang terkandung di dalamnya. Baik berupa reaksi alergi, intoleransi, atau reaksi simpang lainnya. Reaksi tersebut dapat mengganggu beberapa organ tubuh dan perilaku pada anak.

 
posted by yardian at 11:34 AM | Permalink | 4 comments
Monday, April 16, 2007
Dietery Invervention of Food Allergy
Makanan relatif aman
a. Buah :
Apel, alpukat, pepaya, pear, bengkoang

b. Sayur :
Kentang, ubi, buncis, kadang panjang, wortel, bayam, kacang kedelai.

c. Lauk :
Daging sapi, kambing, ikan air tawar (mujair, lele, mas, patin, belut)

d. Bubur beras :
Bubur beras merah (merk Nestle), tepung beras putih (merk Rose brand).
**mommy's note : any rice will do

e. Biskuit
Modern, Farley classic, Gerry, Baby Choice, Fantastic.

f. Susu :
Pregestemil, Pepti Junior, Panenteral, Susu soya (Isomil, Nutrilon soya,Prosobee), Pediasure, Nutren Junior, KLIM, Chilmil non Platinum, Ensure, Enercal.

g. Other :
Tahu, tofu, margarin (blue band, palmboom, dll, agar-agar tanpa warna.

Makanan yang kadang menyebabkan alergi

a. Sayur : Brokoli, labu, jagung
b. Lauk : ikan gurame, salmon, tuna, bandeng, ayam, itik, burung dara, telor itik, kecap.
c. Buah : jeruk, pisang
d. Beras : beras ketan

Makanan yang tersering menyebabkan alergi

a. Buah : melon, semangka, timun mas, mangga, duku, tomat, nanas, durian, anggur, nangka dan sejenisnya
b. Lauk : cumi, udang, kepiting, kerang dan sejenisnya.
c. Sayur : kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, kacang mente.
d. Other : coklat, keju, mentega (butter), telor ayam, agar-agar berwarna, yakult, vitacharm,yoghurt
(TERMASUK YANG TERKANDUNG DALAM MAKANAN TERTENTU)

Penyebab alergi bukan makanan
Hirupan : Debu (karpet), tungau/mites (kasur kapuk dsb), serbuk bunga.
Kontak : karet, emas, logam, plastik


Pemicu alergi (tidak akan berpengaruh jika penyebab alergi dihindari)

Infeksi (Demam, tenggorok, dll).
Udara panas, dingin, minuman dingin /es, stress, aktifitas meningkat (berlari, tertawa keras, menangis), gangguan hormonal (menstruasi/kehamilan)
 
posted by yardian at 10:03 AM | Permalink | 3 comments
Alergi
After hampir 2,5 minggu Deeva ga mau makan sama sekali, Sabtu kemarin Deeva ke dr. Widodo Judarwanto SpA di RS Bunda.

Dr. Widodo ahli alergi, dan mommy dah curiga Deeva alergi setelah baca artikel yang gejalanya ampir semua ada di Deeva.

So, ini sumarynya.

Ciri Alergi pada Bayi :
- Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan, terutama di pipi, teling dan daerah yang tertutup popok. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk.
- Kotoran telinga berlebih & berbau
- Sering muntah/gumoh, kembung, cegukan, buang angin keras dan sering.
- Sering rewel, gelisah (kolik) terutama malam hari.
- BAB 3 kali atau lebih dalam sehari atau BAB tidak setiap hari, sering ngeden & beresiko hernia umbilikalis (pusar), scrotalis, inguinalis karena sering ngeden
- Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
- Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan
- Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar
- Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak. Saat tidur kepala sering miring ke salah satu sisi tertentu karena salah satu hidung buntu (resiko kepala peyang)
- Mata berair atau timbul kotoran mata (beleka) di salah satu atau kedua sisi
- Berat badan sulit naik setelah 4-6 bulan
- Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba hangat (bhs jawa : sumeng).
- Keringat berlebih
- Gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok
- Mudah kaget bila ada suara keras. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar, kejang.
- Problem minum ASI : bayi sering menangis (karena perut tidak nyaman) seperti haus sehingga minum berlebihan dan berat badan berlebihan. Sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.
Sering menggigit puting hingga luka (agresif). Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu dan napas denganmulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi, karena satu sisi hidung buntu. Jangka panjang payudara ibu bisa jadi besar sebelah.


Komplikasi Alergi :
- Mudah sakit panas, batuk, pilek (infeksi berulang) : 1-2 kali tiap bulan, karena daya tahan tubuh menurun. Sebaiknya tidak terlalu mudah minum antibiotika. Penyebab infeksi berulang adalah virus yang sebenarnya tidak perlu antibiotika
- Waspadai dan hindari efek samping minum obat terlalu sering
- Tonsilitis kronik (amandel membesar). Hindari operasi amandel yang tidak perlu
- Mudah mengalami infeksi saluran kencing, karena kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
- Overdiagnosis TBC (minum obat jangka panjang padahal belum tentu menderita TBC/flek) karena gejala alergi mirip penyakit TBC
- Kesulitan makan, berat badan sulit naik terutama setelah usia 4-6 bulan
- Makan berlebihan, kegemukan (obesitas)
- Infeksi jamur (hipersensitif candidiasis) di lidah, selangkangan, leher, perut atau dada, dan keputihan.


Penting :
- Waspadai jika orang tua dan keluarga menderita alergi, maka anak beresiko alergi
- Alergi dapat dicegah dan di deteksi sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan (wah..ntar dedeknya Deeva mudah2an bebas alergi yah., hehehheh)
- Kenali gejala alergi sejak lahir, cegah komplikasinya, hindari pemakaian obat jangka panjang


Gangguan saluran cerna (alergi karena makanan) dapat mempengaruhi perilaku anak dalam hal :
- Gerakan motorik berlebihan
Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong atau diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur-benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur, sering memanjat. Tomboy pada anak perempuan : main bola, memanjat, dsb
- Gangguan tidur malam
Gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi nungging, berbicaran, tertawa, berteriak saat tidurm sulit tidur, malam sering terbangun, duduk kemudian tidur lagi, mimpi buruk, beradu gigi.
- Agresif meningkat
Sering memukul kepala sendiri dan orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti gemes)
- Gangguan konsentrasi
Cepat bosan terhadap suatu aktivitas kecuali menonton tivi, main games, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, sering bengong. Tapi anak tampak cerdas.
- Emosi Tinggi
Mudah marah, sering berteriak/mengamuk/tantrum, keras kepala.
- Gangguan sensoris & koordinasi motorik
Bolak-balik, duduk, merangkak tidak sesuai usia. Terlambat berjalan, jalan terburu-buru, mudah terjatuh/menabrak, jalan jinjit, duduk dengan posisi huruf "W"
- Gangguan oral motor
Terlambat bicara, bicara terburu-buru, cadel, gagap, gangguan menelan-mengunyah, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi). Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
- Impulsif
Banyak bicara, tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain.
- Memperberat gejala Autis dan ADHD


Kontroversi Pada Alergi
- Di antara masyarakat awam bajkan sebahian klinisi banyak terjadi kontroversi tentang alergi makanan sehingga banyak pendapat berbeda&membingungkan
- Setelah anak mengalami sendiri, ternyata bahwa alergi makanan banyak mengganggu organ tubuh, maka kita harus lebih percaya pada fakta yang terjadi tersebut.
- Meskipun kadang tidak bisa hilang sama sekali, tetapi alergi makana akan berkurang secara bertahap di atas usia 2-7 tahun.

Pemeriksaan Alergi
- Gold standard atau memastikan makanan penyebab alergi adalah dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge. Namun pemeriksaan ini rumit, relatif mahal dan perlu waktu lama
- Pemeriksaan tes kulit : sensitifitas tinggi tapi spesifisitas rendah.
- Pemeriksaan alternatif ( unproven procedure) : test Vega, Kinesiologi terapan dll : Sensitifitas dan spesifisitas tidak tinggi sehingga belum memastikan penyebab Alergi
- Pada Allergy Behaviour Clinic : melakukan modifikasi dengan Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana. Intinya adalah mencoba makanan yang relatf aman selama 3 minggu kemudian move on ke step selanjutnya
Penanganan alergi terbaik adalah mengidentifikasi penyebab dan menghindarinya. Pemberian obat anti alergi jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mencari penyebab alergi.
Menunda makanan penyebab alergi tidak mempengaruhi staus gizi anak bila mengetahui makanan penggantinya.


Manifestasi Klinis yang sering dikaitkan dengan alergi
- Batuk lama (>2 minggu), asma, pilek, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari, mimisan, suara serak, sinusitis, sering menarik napas dalam
- Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah
- Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering lebam kebiruan pada tulang kering kaki atau pipi seperti bekas terbentur
- Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk.
- Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna)
- Nyeri otot dan tulang saat malam hari
- Sering minta kencing, bed wetting (semalam ngompol 2-4 kali)
- Mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak, sering nyeri perut
- Nyeri gigi, gigi berwarna kuning keciklaran, gigi rusak, gusi berdarah
- Sering sariawan, lidah putih&berpulau, nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, gusi berdarah dan bengkak
- Sering BAB (3 kali dan lebih) dalam sehari, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, pup di celana
- Kepala, telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan, keringat malam, badan berbau.
- Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum), TICS (gerakan mata sering berkedip), memakai kaca mata sejak usia sangat muda (6-12 tahun)
- Gangguan hormonal :tumbuh rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan
- Sakit kepala, migrain, kejang nonspesifik

Further info :
Dr. Widodo Judarwanto SpA
1. RS Bunda Jakarta
2. Residence : Jl. Bendungan Asahan 5, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
3. PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN) JL Rawasari Selatan 50 Jakarta Pusat
Telp : 31922005 - 4264126 - 5703646


**mommy's note : rupanya Deeva terlambat tumbuh gigi (9 bulan baru nembus gusi), karena ada alergi makanan dan kena di saluran cernanya. So, kata dokter percuma juga tumbuh gigi cepet, karena ga bisa dipake, hehehehehhe **
 
posted by yardian at 8:53 AM | Permalink | 0 comments

Powered by Blogger